ada sekuntum hati
yang tumbuh di celah batu
mengakar diam
walau angin sering menyapa
tanpa izin waktu
Di rumah teduh di kaki bukit
datangnya burung yang sama
berulang kali bertandang
konon mahu singgah pada dahan tua
tempat ia menetas dahulu
namun setiap kali ia hinggap
dibiar pula anak kecilnya
pada rumput yang bukan rumputnya sendiri
seolah bumi itu
wajib menadah setiap jatuh yang ditinggalkan
Sedang si bunga batu
dengan segala beban embun
yang menitis saban hari
terus dipaksa mekar
dalam ruang yang sempit
dibisukan oleh bayang pohon tinggi
yang tidak pernah tahu malu
merampas cahaya pada waktu yang tidak patut
Apabila bunga itu cuba berbicara
sekadar melepaskan degup yang lama dipendam
sekadar ingin meluah rasa retak
kepada langit yang mendengar di laman maya
tiba-tiba guruh datang mencelah,
membawa suara-suara angin
yang mempertahankan pokok darahnya sendiri
langit yang tadinya damai
terus badai,
seolah satu keluhan kecil
adalah ribut yang menggoncang seluruh lembah
Maka si bunga batu
kembali diam
menyimpan suaranya dalam kelopak
mengunci resah dari mata alam
namun jauh di dasar bumi
akar yang pasrah itu tahu
diamnya bukan tanda kalah,
hanya menunggu hari
di mana angin akhirnya belajar
untuk tidak menenggelamkan
suara yang layak didengari
Comments
Post a Comment